Generasi baru biasanya identik dengan perubahan besar.
Desain beda total. Mesin baru. Fitur baru. Pokoknya dibuat supaya orang langsung sadar, “Oh ini model terbaru.”
Tapi Honda Vario 125 terbaru ini, kayaknya ga kayak gitu, deh.
Memang tampilannya sekarang lebih tajam. Lampunya lebih agresif. Ada varian Street yang kelihatan lebih gahar dan bergaya adventure. Tapi makin dalam, kalau diperhatikan, makin terasa bahwa banyak bagian motor ini sebenarnya masih sangat mirip dengan Vario sebelumnya.
Apalagi, kesan itu langsung terasa sejak pertama kita pakai.
Mesinnya masih punya karakter yang sama. Tarikannya tetap halus, enggak terlalu meledak, dan sangat familiar buat pengguna Vario lama. Begitu buka gas, kerasa ada rasa jedanya dulu, sampai motor benar – benar jalan.
Bahkan suara mesinnya juga masih punya karakter khas Vario yang susah dijelaskan. Ada suara mekanikal yang buat sebagian orang terasa kasar, tapi buat pengguna lama justru terdengar familiar.

Lalu rem belakangnya juga masih tromol.
Ini mungkin jadi salah satu bagian yang paling cepat disadari orang. Karena di tengah desain baru dan embel-embel generasi terbaru, ternyata sistem pengereman belakangnya belum berubah banyak. Saya dendiri bukan penggemar sistem CBS nya honda vario. Karena ya itu, agak ngeri-ngeri sedap kalau diajak “late braking”. Jadi ya, kudu santai kalo mau ngerep, dan jaga jarak yg cukup di depan. Cukup jauh, lebih tepatnya.
Bukan berarti jelek. Karena bisa dibilan cukup oke buat penggunaan harian. Tapi tetap saja muncul perasaan kecil: “Kok masih begini ya?”
Area dek kaki juga masih terasa khas Vario. Buat pengguna bertubuh tinggi kayak saya 178, ruang kaki tetap terasa agak sempit. Dengkul kadang mentok sm setang kalo lg belok patah. Posisi riding dasarnya juga masih mirip generasi sebelumnya, terutama di varian standar.
Bahkan rangkanya pun masih mempertahankan model tubular lama, bukan eSAF seperti yang sempat ramai dibahas di motor Honda lain.
Dan, rangka tubular ini bukan hal yang jelek.
Karena di internet, banyak orang malah merasa lebih senang mengetahui Vario 125 tidak ikut memakai platform baru itu. Termasuk saya.
Di titik ini jadi terlihat kalau Honda sebenarnya tidak sedang mencoba membuat Vario terasa asing.
Mereka seperti sengaja menjaga karakter motor ini supaya tetap terasa familiar.
Karena kalau dipikir-pikir, pengguna Vario itu unik. Banyak yang beli bukan karena ingin sesuatu yang baru total, tapi karena mereka sudah cocok dengan Vario sebelumnya, dan pengen ada “lebihnya”, meskipun sedikit.
Mereka sudah hafal posisi duduknya. Sudah hafal feeling gasnya. Sudah tahu cara motornya bergerak di kemacetan. Bahkan mungkin sudah hafal suara mesin dan bukaan gas nya.
Dan ketika sebuah produk sudah berada di posisi seperti itu, perubahan besar justru bisa jadi risiko buat Honda.
Makanya mereka terlihat sangat hati-hati di generasi terbaru ini.

Yang diubah lebih banyak tampilan luar dan sedikit penyempurnaan rasa berkendara. Sementara karakter utamanya tetap dipertahankan.
Mungkin karena Honda sadar, kekuatan terbesar Vario bukan ada di fitur paling canggih atau teknologi paling baru.
Tapi ya, di rasa familiar itu sendiri.
Naik motor, langsung nyaman. Enggak perlu adaptasi. Enggak perlu belajar lagi.
Dan buat banyak orang, ternyata itu jauh lebih penting daripada sekadar daftar fitur baru yang lebih-lebih. Lagi pula, kan ada Vario 160.



